Cinta dari Darah dan Ruh

Rehat dulu dari membicarakan MPASI, ingin berbagi sebuah tulisan bagus yang di-share oleh Majalah Dakwah Islam Al-Intima dari Ust Anis Matta…

Lelaki itu sudah mengabdi pada ibunya sampai tuntas. Ia menggendong ibunya yang lumpuh. Memandikan dan mensucikannya dari semua hadatsnya. Ikhlas penuh ia melakukannya. Itu balas budi dari seorang anak yang menyadari bahwa perintah berbuat baik kepada orang tua diturunkan Allah persis setelah perintah tauhid.

Tapi entah karena dorongan apa ia kemudian bertanya pada Umar bin Khatab: “Apakah pengabdianku sudah cukup untuk membalas budi ibuku?” lalu Umar pun menjawab: “Tidak! Tidak cukup! Karena kamu melakukannya sembari menunggu kematiannya, sementara ibu merawatmu sembari mengharap kehidupanmu”.

Tidak! Tidak! Tidak!
Tidak ada budi yang dapat membalas cinta seorang ibu. Apalagi mengimbanginya. Sebab cinta ibu mengalir dari darah dan ruh. Anak adalah buah cinta dua hati. Tapi ia tidak dititip dalam dua rahim. Ia dititip dalam rahim sang ibu selama sembilan bulan: disana sang hidup bergeliat dalam sunyi sembari menyedot saripati sang ibu. Ia lalu keluar diantara darah: inilah ruh baru yang dititip dari ruh yang lain.

Itu sebabnya cinta ibu merupakan cinta misi. Tapi dengan ciri lain yang membedakannya dari jenis cinta misi lainnya, darah! Ya, darah! Anak adalah metamorfosis dari darah dan daging sang ibu, yang lahir dari sebuah kesepakatan. Cinta ini adalah campuran darah dan ruh. Ketika seorang ibu menatap anaknya yang sedang tertidur lelap, ia akan berkata di akar hatinya: itu darahnya, itu ruhnya! Tapi ketika ia memandang anaknya sedang merangkak dan belajar berjalan, ia akan berkata didasar jiwanya: itu hidupnya, itu harapannya, itu masa depannya! Itu silsilah yang menyambung kehadirannya sebagai peserta alam raya.

Itu kelezatan jiwa yang tercipta dari hubungan darah. Tapi di atas kelezatan jiwa itu ada kelezatan ruhani. Itu karena kesadarannya bahwa anak adalah amanat langit yang harus di pertanggungjawabkan di akhirat. Kalau anak merupakan isyarat kehadirannya di muka bumi, maka ia juga penentu masa depannya di akhirat. Dari situ ia menemukan semangat penumbuhan tanpa batas: anak memberinya kebanggaan eksistensial, juga sebuah pertanggungjawaban dan sepucuk harapan tentang tempat yang lebih terhormat di surga berkat doa-doa sang anak.

Dalam semua perasaan itu sang ibu tidak sendiri. Sang ayah juga berserikat bersamanya. Sebab anak itu bukti kesepakatan jiwa mereka. Mungkin karena kesadaran tentang sisi dalam jiwa orang tua itu, DR. Mustafa Sibai menulis persembahan kecil di halaman depan buku monemetalnya “Kedudukan Sunnah Dalam Syariat Islam”. Buku ini, kata Sabai, kupersembahkan pada ruh ayahandaku yang senantiasa melantunkan doa-doanya, “Ya Allah, jadikanlah anakku ini sebagai sumber kebaikanku di akhirat kelak”.

Doa sang ibu dan ayah selamanya merupakan potongan-potongan jiwanya! Karena itu ia selamanya terkabul! ~ Anis Matta ~

11 hari MPASI…

dan masih belum memuaskan. Bahkan mulai mengkhawatirkan *emak parno*

Sudah dicoba alpukat, semangka, pisang, apel royal gala dari segala macem konsistensi encer-kental, ditambah ASIP/tidak, teteup nggak ada perkembangan berarti. Sesuap dua suap selesai sudah. Nggak yakin ada yang ketelen karena lidah baby Aya masih terus ngedorong makanan keluar…

(・_・、)

puree alpukat

puree alpukat

Bahan : buah, air matang/asip

Alat : food maker/blender

Langkah-langkah :

  1. belah buah jadi 2, buang biji, ambil daging buah dengan sendok
  2. blender/gerus-saring buah hingga lembut
  3. tambahkan cairan, aduk, segera dikonsumsi

MPASI pertama

…kedua dan ketiga baby Aya. Ok postingan ini sedikit terlambat karena kesibukan, but hey yang penting kan ceritanya, bukan tanggal update-nya! *alesan*

Jadiii, hari Sabtu tanggal 6 Agustus 2011 kemaren tepat di usianya 6 bulan 3 hari, baby Aya memulai MPASI perdana 😀 😀 😀 Sesuai dengan jadwal yang telah dibuat sebelumnya, puree alpukat + ASIP pun dibuatlah. Saking semangatnya bikin ternyata kebanyakan, mangkuk pigeon yang imut itu sampai penuh.

Hari pertama, baby Aya dipangku Ayah, dipakein bib, dan jreng jreng jreng… dimulailah 1 suapan, yang langsung dilepeh dengan suksesnya. Huhuhuhu… Well, at least nggak ditolak. Mukanya keliatan bingung, tapi ga pake acara nangis-nangis atau marah-marah. Setelah dicoba lagi beberapa suapan, Bunda Aya mikir kayaknya refleks lidah mendorong makanan padat keluar masi dominan. Setelah diencerin lagi pun masi banyak yang keluar lagi dan tak yakin apa ada yang ketelan tuh? Hmm… maybe she’s not ready yet.

Ya sudah, MPASI perdana pun diakhiri setelah dibujuk-bujuk, digendong, diajak maen pun udah nggak mempan disuapin. Lagian udah keburu jam bobo sorenya baby Aya. Begitu disodoring PD langsung nyosor. Ayah Aya sampai ketawa, komentar gini; “Lebih enakan nyusu langsung aja ya, Ayaaa..?”

Btw karena sama-sama bingung, Ayah Aya and Bunda Aya samsek nggak kepikir pake acara foto-foto.. haiyaah!

Hari kedua, persiapan lebih matang. Baby Aya didudukin di high chair-nya, dipasangin bib, trus dimulai lagi MPASI-nya. Kali ini eyang putri dan uti-nya juga ikutan nyemangatin karena pas berkunjung ke rumah. Entah karena suasananya yang rame atau gimana, hari kedua lebih lancar. Sukses masuk beberapa suapan. Ayah Aya juga sempat foto-foto. Walaupun tetep nggak habis, hati Bunda Aya senang riang gembira ^_______^

Hari ketiga, baby Aya keburu bobo sore. Jadwal MPASI pun mundur jadi sore banget sebelum mandi. Kali ini tak semangat seperti kemarin, baru beberapa suapan udah noleh kanan noleh kiri tanda tak mau. Bunda Aya patah hati lagi deeehhhh…

Jadi kepikiran juga ya, demi apa itu anak ibu-ibu tetangga sebelah bisa habis 1 buah pisang di usia 4 bulan?! Hiks… instropeksi lagi mana-mana yang masih kurang. Apa memang baby lagi adaptasi? Apa baby nggak doyan alpukat? Apa kurang encer/lembut/kental? Apa waktunya yang kurang tepat? Apa baby masi mengasosiasikan bundanya sebagai gentong ASI jadi nggak mau yang lain? Apa baby lagi laper/kenyang?

Ah, yang namanya ibu memang selalu begini ya? Kuatir nggak ada habisnya ε=( ̄。 ̄;)フゥ

Sedikit menghibur diri sendiri; nggak apa-apa deeh Bunda, MPASI 6-12 bulan kan masi perkenalan aja. ASI masih mencukupi 80%-nya. Ini juga baru 3 hari, perjalanan masih panjaaaaaang. Semoga baby Aya bisa segera beradaptasi, doyan makanan yang dibikin Bunda, selalu dihabiskan, tumbuh menjadi anak yang sehat dan berkembang optimal. Amiinnnn…

ulang bulan ke-6

Baby Aya 6 bulan 2 hari! Enam bulan! So unbelievable! Angka 6 ini keramat banget karena so much meaning to me…

Pertama, berbahagia sekali rasanya melihat perkembangannya sejauh ini:

  1. udah bisa mengangkat pantat dan ambil posisi merangkak, lucu banget deh ngeliat baby Aya nungging-nungging maju mundur gitu. Beluuum .. belum bisa merangkak, tiap kali mau maju pasti nyungsep deh. Tapi bentar lagi dijamin bundanya kewalahan ngejar sana-sini!
  2. udah pinter ngelepas kaus kakinya sendiri! Bunda Aya jadi punya alesan shopping legging n leg warmer nih ;D
  3. memindahkan mainan dari 1 tangan ke tangan lainnya
  4. babble babble, “Daaaddadadadaaaaa dadadadaaaaa…!
  5. udah mulai tertarik kalo ngeliat orang lain makan
  6. bisa duduk walau harus ditopang

Selain itu juga dimulailah momen mendebarkan lainnya yaitu MPASI! O(≧▽≦)O ワーイ♪ Berhubung ulang tahun baby Aya jatuh di weekday, Bunda Aya memutuskan untuk sedikit memundurkan start MPASI ke weekend. And yup that means tomorrow! *doki-doki* And it deserves its own post for sure! *wink-wink norak*

Dan tentunya ada 1 lagi momen bersejarah.

…..

Baby Aya lulus S-1 ASIX… *ngelap air mata*

Enam bulan yang lalu, dengan beban baby blues, inverted nipple, puting lecet & improper latch, sayah bahkan tak yakin akan sanggup menyusui hingga 1 bulan pertama. Tiap harinya hanya berkonsentrasi bagaimana melalui hari ini, besoknya diulangi lagi, besoknya diulangi lagi… tak dinyana in two weeks I’m addicted to breastfeeding already!

Buat para mommies di luar sana yang juga lagi berjuang… don’t give up yet… Tapi jangan juga berpikir bahwa eksklusif itu harga mati, bahwa breastfeeding itu all or nothing. Jangan berpikir karena sudah kena 1 botol sufor lantas selesai sudah. Tetap menyusui ya mommies… selama yang mommies bisa. Berapa pun tetes ASI yang mommies berikan akan sangat berharga untuk bayi-bayi kecil kita…